Featured

Teologi Cinta

This is the post excerpt.

Iklan

post

Baqa

Sebuah Rekayasa Imajinasi

Oleh : Rahmat Mustari



Fulan bin fulan seorang sufi yang bertempat tinggal jauh dari kampung. Jarak tempat tinggal yang jauh dari kampung sang sufi memiliki banya waktu luang menyepihkan hatinya. Sebagaimana para penggila Tuhan lainnya, sang sufi di tengah kesendiriannya itu selalu menyibukkan dirinya untuk menyebut-nyebut nama Tuhan dan mengagumkan Tuhan. Bahkan pada suatu waktu sang sufi pergi ke kebun yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, sufi itu menyaksikan burung-burung berseliweran di atas angkasa, mengipaskan sayap-sayap dengan berlahan, melihat bagaimana burung-burung berayunan tanpa khawatir di atas dahan-dahan ranting pohon. Mendengar suarah alam dan kicauan burung. Sontak sang sufi itu sempat malu dan tiba-tiba melepaskan gagang cangkul dari kepalan tangannya. Kemudian membawa tubuhnya yang terenga itu bersimpuh di salah satu tiang gubuk yang sederhana dan terbuka bebas. Di tiang itu ia merebahkan kepalanya sambil melepas pandang ke angkasa yang tak bertepi. Tiba-tiba air garam mengucur dari dua bolah matanya. Sambil memegang dadanya suaru tangisnya mulai terdengar, desiran angin yang berlahan meniup tubuhnya sang sufi semakin hanyut dalam kesedihan. Tubuhnya mulai luruh bagaikan air matanya luruh dari matanya.

Sesekali sang sufi mengangkat kedua tangganya dan berjalan keluar dari atap gubuk berdiri menghadap ke angkasa yang biru keputihan dan mencoba mengucapkan kata-kata, kalimat kata-katanya tak jelas terungkap, ia memukul dadanya dengan raut wajah yang sedih dan mencoba lagi berucap. Toh, kalimat-kalimat itu semakin tak jelas dan terputus-putus, saling menyilang dan beririsan dengan nada tangisnya yang terseduh-seduh. Dalam ketidakberdayaan sang sufi menarik nafas dan melepaskan sebuah kalimat “La ilaha”, suara itu lenyap, entah apa. Sang sufi berjalan mundur tak berdaya dan merebahkan tubuhnya di atas panggung gubuknya yang terbuat dari pelepah korma.

Sang sufi yang hanya bisa menghembuskan nafas itu tiba-tiba bibirnya mengucapkan “ilahi”. Dan sang sang sufi tak lagi menyadarkan diri.

Setelah sadar dari ketidaksadaran tadi sang sufi melakukan sujud sukur dan kembali ke rumahnya. Sang sufi berjalan bermandikan cahaya matahari yang mulai menguning keemasan. Pada malamnya pintu rumah sang sufi diketuk oleh fulan bin fulan. Sufi membuka pinta melihat seorang pemuda berdiri di depan pintu rumahnya. Ia bertanya pada pemuda fulan bin fulan itu, ” wahai anak muda yang tampan siapakah Anda dan apa keperluan apa Anda mendatangi rumahku ini?”, pemuda itu menjawab “saya fulan bin fulan orang asing di kampung ini, saya datang ke rumah tuan untuk belajar makrifat tasawuf”. Sufi itu bertanya lagi pada pemuda itu “jika makrifat itu yang ingin Anda pelajari, pernahkah Anda jatuh cinta?”, jawab pemudah itu “belum tuan”. Sufi berkata pada pemuda yang berdiri di depannya itu, “pulanglah ke kampung asalmu, setelah Anda mengalami jatuh cinta baru Anda kembali lagi di rumahku ini”. Sufi mengucapkan salam dan pintu di tutup.
Alkisah!

Fulan bin fulan seorang sufi yang bertempat tinggal jauh dari kampung. Jarak tempat tinggal yang jauh dari kampung sang sufi memiliki banya waktu luang menyepihkan hatinya. Sebagaimana para penggila Tuhan lainnya, sang sufi di tengah kesendiriannya itu selalu menyibukkan dirinya untuk menyebut-nyebut nama Tuhan dan mengagumkan Tuhan. Bahkan pada suatu waktu sang sufi pergi ke kebun yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, sufi itu menyaksikan burung-burung berseliweran di atas angkasa, mengipaskan sayap-sayap dengan berlahan, melihat bagaimana burung-burung berayunan tanpa khawatir di atas dahan-dahan ranting pohon. Mendengar suarah alam dan kicauan burung. Sontak sang sufi itu sempat malu dan tiba-tiba melepaskan gagang cangkul dari kepalan tangannya. Kemudian membawa tubuhnya yang terenga itu bersimpuh di salah satu tiang gubuk yang sederhana dan terbuka bebas. Di tiang itu ia merebahkan kepalanya sambil melepas pandang ke angkasa yang tak bertepi. Tiba-tiba air garam mengucur dari dua bolah matanya. Sambil memegang dadanya suaru tangisnya mulai terdengar, desiran angin yang berlahan meniup tubuhnya sang sufi semakin hanyut dalam kesedihan. Tubuhnya mulai luruh bagaikan air matanya luruh dari matanya.

Sesekali sang sufi mengangkat kedua tangganya dan berjalan keluar dari atap gubuk berdiri menghadap ke angkasa yang biru keputihan dan mencoba mengucapkan kata-kata, kalimat kata-katanya tak jelas terungkap, ia memukul dadanya dengan raut wajah yang sedih dan mencoba lagi berucap. Toh, kalimat-kalimat itu semakin tak jelas dan terputus-putus, saling menyilang dan beririsan dengan nada tangisnya yang terseduh-seduh. Dalam ketidakberdayaan sang sufi menarik nafas dan melepaskan sebuah kalimat “La ilaha”, suara itu lenyap, entah apa. Sang sufi berjalan mundur tak berdaya dan merebahkan tubuhnya di atas panggung gubuknya yang terbuat dari pelepah korma.

Sang sufi yang hanya bisa menghembuskan nafas itu tiba-tiba bibirnya mengucapkan “ilahi”. Dan sang sang sufi tak lagi menyadarkan diri.

Setelah sadar dari ketidaksadaran tadi sang sufi melakukan sujud sukur dan kembali ke rumahnya. Sang sufi berjalan bermandikan cahaya matahari yang mulai menguning keemasan. Pada malamnya pintu rumah sang sufi diketuk oleh fulan bin fulan. Sufi membuka pinta melihat seorang pemuda berdiri di depan pintu rumahnya. Ia bertanya pada pemuda fulan bin fulan itu, ” wahai anak muda yang tampan siapakah Anda dan apa keperluan apa Anda mendatangi rumahku ini?”, pemuda itu menjawab “saya fulan bin fulan orang asing di kampung ini, saya datang ke rumah tuan untuk belajar makrifat tasawuf”. Sufi itu bertanya lagi pada pemuda itu “jika makrifat itu yang ingin Anda pelajari, pernahkah Anda jatuh cinta?”, jawab pemudah itu “belum tuan”. Sufi berkata pada pemuda yang berdiri di depannya itu, “pulanglah ke kampung asalmu, setelah Anda mengalami jatuh cinta baru Anda kembali lagi di rumahku ini”. Sufi mengucapkan salam dan pintu di tutup. 

Mimpi Teknologi

Oleh : Rahmat Mustari

Di antara problematika manusia modern dewasa ini adalah krisis terhadap lingkungan hidup. Krisis lingkungan ditandai sebagai ancaman terhadap alas hidup, tak hanya manusia, juga segala makhluk yang hidup dilingkungan tersebut juga ikut terancam. Teknologi dan sains yang menongkahi kesadaran manusia modern tak hanya menyuguhkan kenikmatan dan kesenangan parsial tapi juga menyisihkan kekhawatiran dan gelisa terhadap alas hidup mereka, yakni kerusakan lingkungan atau ruang hidup. Ketika hidup tak lagi di alasi dengan bumi, hidup itu sendiri rentan terhadap murka.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi dan pengetahuan yang dicapai manusia dewasa ini, manusia semakin mudah mengakses kebutuhan-kebutuhan hidup. Hasil yang ditunjukkan oleh teknologi dan pengetahuan untuk memenuhi hajat manusia telah merubah persepsi manusia terhadap teknologi.

Bencana alam dapat di bagi menjadi dua macam, bencana alam yang alami atau bencana alam yang di sebabkan oleh eksploitasi manusia terhadap alam.

Tentu, bencana alam yang alami tidak disebabkan oleh tangan manusia, tapi bencana alami itu muncul karena lemahnya ikhtiar manusia terhadap cara kerja sistem alam. Alam yang notabenenya menyantirkan secara samar dan saru fenomena keindahan, alam mala tampak menjadi ancaman kelansungan hidup manusia. Mungkin tak hanya manusia, di bumi itu tempat berpijak segala sesuatu. Seperti juga manusia, ketika tempat berpijak di monopoli dan dipersempit makan segala sesuatu akan hidup dengan watak alami yang ada pada dirinya sendiri, sesuatu itu bisa hadir tampak indah dan memesona, juga bisa menakutkan dan mengangkangi segala hal.

Cara Pandang

Segala seauatu yang ada dalam alam semesta memiliki sistem hubungan tertentu yang saling memberi dan menghidupkan. Namun mengapa fenomena eksploitasi terhadap sumber-sumber alam oleh manusia, setelah sekian lama mengkeruk  alam tindakan itu menjadi ancaman balik bagi manusia itu sendiri? Mungkin kita dapat mengatakannya, karena alam telah rusak dan manusia kehilangan pijakannya, ketika manusia kehilangan pijakan, maka alam menjadikan manusia sebagai pijakan. Jika pandangannya demikian, mau tidak mau jika manusia masih menginginkan hidup dan bersandar pada alam, maka eksploitasi dan pengkerukan terhadap alam dihentikan.

Dengan mudah kita membalik logika berfikir macam begini. Tampaknya tidak demikian. Fenomena kerusakan lingkungan memaksa kita mengevaluasi cara pandang kita terhadap alam, yang selama ini didominasi paradigma sekularisme yang melihat alam semata-mana bernilai instrumen dan ekonomis. Tak pelak penglihatan yang sekuler-empiris secara masif mendorong para pemodal menginvestasikan modal mereka secara besar-besaran untuk mengeruk sumber-sumber alam. Dari cara pandangan itulah mulai dari luhu hingga hilir semenanjung tubuh alam Nusantara di keruk.

Sekularisme terhadap alam ini, yang juga di anut para penguasa pengambil kebijakan dalam membuat regulasi dalam memandang sumber-sumber alam. Tanah dan sumber-sumber alam lainnya dipandang semata-mata kekayaan yang harus dikelola investor yang berskla besar, nasional maupun asing, untuk mengelola sumber-sumber alam, tanah dan sumber lainnya. Berkutat pada pembangunan dan masyarakat pemerintah pusat maupun daerah menyerahkan sumber daya alam di keruk investor-investor yang berskla besar. Alih-alih geliat penanaman modal oleh investor demi kesejahteraan masyarakat, penjajahan dan perampasan ruang hidup terhadap kaum petani dan nelayan tak dapat di hindari.

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) meluncurkan Laporan Akhir Tahun 2016, yang bertajuk “Liberalisasi Agraria Diperhebat, Reforma Agraria Dibelokkan” tanggal 05 Januari 2017. Dewi Kartika selaku Sekjen KPA menyampaikan beberapa hal penting mengenai situasi keagrariaan di Indonesia. Di antaranya; paradigma kebijakan regulasi yang masih memandang alam semata-mata bernilai ekonomis, perebutan sumber daya alam antara pemilik kapital dan masyarakat setempat, serta masih maraknya konflik agraris yang merugikan masyarakat, belum berubahnya respon aparat pemerintah, khususnya kepolisian dan Pemerintah Daerah dalam menghadapi konflik agraria di lapangan. Hal ini ditunjukkan dengan seringnya melakukan beragam pendekatan kekerasan dan prosedur lainnya yang melampaui batas dalam menghadapi konflik.

Dengan kata lain, masyarakat pribumi semakin terpisah dari tanah, air dan instrumen hidup lainnya. Di tengah ketidakberdayaan masyarakat di tangan para kapitalis, pemerintah pusat maupun daerah terus mengundang inveator mengeruk sumber-sumber alam.

Di antara problematika manusia modern dewasa ini adalah krisis terhadap lingkungan hidup. Krisis lingkungan ditandai sebagai ancaman terhadap alas hidup, tak hanya manusia, juga segala makhluk yang hidup dilingkungan tersebut juga ikut terancam. Teknologi dan sains yang menongkahi kesadaran manusia modern tak hanya menyuguhkan kenikmatan dan kesenangan parsial tapi juga menyisihkan kekhawatiran dan gelisa terhadap alas hidup mereka, yakni kerusakan lingkungan atau ruang hidup. Ketika hidup tak lagi di alasi dengan bumi, hidup itu sendiri rentan terhadap murka.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi dan pengetahuan yang dicapai manusia dewasa ini, manusia semakin mudah mengakses kebutuhan-kebutuhan hidup. Hasil yang ditunjukkan oleh teknologi dan pengetahuan untuk memenuhi hajat manusia telah merubah persepsi manusia terhadap teknologi.

Bencana alam dapat di bagi menjadi dua macam, bencana alam yang alami atau bencana alam yang di sebabkan oleh eksploitasi manusia terhadap alam.

Tentu, bencana alam yang alami tidak disebabkan oleh tangan manusia, tapi bencana alami itu muncul karena lemahnya ikhtiar manusia terhadap cara kerja sistem alam. Alam yang notabenenya menyantirkan secara samar dan saru fenomena keindahan, alam mala tampak menjadi ancaman kelansungan hidup manusia. Mungkin tak hanya manusia, di bumi itu tempat berpijak segala sesuatu. Seperti juga manusia, ketika tempat berpijak di monopoli dan dipersempit makan segala sesuatu akan hidup dengan watak alami yang ada pada dirinya sendiri, sesuatu itu bisa hadir tampak indah dan memesona, juga bisa menakutkan dan mengangkangi segala hal.

Cara Pandang

Segala seauatu yang ada dalam alam semesta memiliki sistem hubungan tertentu yang saling memberi dan menghidupkan. Namun mengapa fenomena eksploitasi terhadap sumber-sumber alam oleh manusia, setelah sekian lama mengkeruk  alam tindakan itu menjadi ancaman balik bagi manusia itu sendiri? Mungkin kita dapat mengatakannya, karena alam telah rusak dan manusia kehilangan pijakannya, ketika manusia kehilangan pijakan, maka alam menjadikan manusia sebagai pijakan. Jika pandangannya demikian, mau tidak mau jika manusia masih menginginkan hidup dan bersandar pada alam, maka eksploitasi dan pengkerukan terhadap alam dihentikan.

Dengan mudah kita membalik logika berfikir macam begini. Tampaknya tidak demikian. Fenomena kerusakan lingkungan memaksa kita mengevaluasi cara pandang kita terhadap alam, yang selama ini didominasi paradigma sekularisme yang melihat alam semata-mana bernilai instrumen dan ekonomis. Tak pelak penglihatan yang sekuler-empiris secara masif mendorong para pemodal menginvestasikan modal mereka secara besar-besaran untuk mengeruk sumber-sumber alam. Dari cara pandangan itulah mulai dari luhu hingga hilir semenanjung tubuh alam Nusantara di keruk.

Sekularisme terhadap alam ini, yang juga di anut para penguasa pengambil kebijakan dalam membuat regulasi dalam memandang sumber-sumber alam. Tanah dan sumber-sumber alam lainnya dipandang semata-mata kekayaan yang harus dikelola investor yang berskla besar, nasional maupun asing, untuk mengelola sumber-sumber alam, tanah dan sumber lainnya. Berkutat pada pembangunan dan masyarakat pemerintah pusat maupun daerah menyerahkan sumber daya alam di keruk investor-investor yang berskla besar. Alih-alih geliat penanaman modal oleh investor demi kesejahteraan masyarakat, penjajahan dan perampasan ruang hidup terhadap kaum petani dan nelayan tak dapat di hindari.

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) meluncurkan Laporan Akhir Tahun 2016, yang bertajuk “Liberalisasi Agraria Diperhebat, Reforma Agraria Dibelokkan” tanggal 05 Januari 2017. Dewi Kartika selaku Sekjen KPA menyampaikan beberapa hal penting mengenai situasi keagrariaan di Indonesia. Di antaranya; paradigma kebijakan regulasi yang masih memandang alam semata-mata bernilai ekonomis, perebutan sumber daya alam antara pemilik kapital dan masyarakat setempat, serta masih maraknya konflik agraris yang merugikan masyarakat, belum berubahnya respon aparat pemerintah, khususnya kepolisian dan Pemerintah Daerah dalam menghadapi konflik agraria di lapangan. Hal ini ditunjukkan dengan seringnya melakukan beragam pendekatan kekerasan dan prosedur lainnya yang melampaui batas dalam menghadapi konflik.

Dengan kata lain, masyarakat pribumi semakin terpisah dari tanah, air dan instrumen hidup lainnya. Di tengah ketidakberdayaan masyarakat di tangan para kapitalis, pemerintah pusat maupun daerah terus mengundang inveator mengeruk sumber-sumber alam.

Keindahan

Rahmat Mustari

“Apa pun definisinya, keindahan tetaplah keindahan. Karena, alam ini diciptakan indah adanya. Keindahan itulah yang ada di Kelabahi ketika di tempat-tempat lain bagian dunia ini–juga termasuk bagian Indonesia–keindahan sudah rusak, atau bahkan sudah hilang”.

Demikian tulis Trias Kuncahyono di harian Kompas edisi minggu, 2 April 2017. Trias tak menolak definisi keindahan yang dikatakan Plato, Aristoteles, dan juga dua filsuf Jerman, Immanuel Kant dan Thomas Aquinas. Karena itu, Trias mewacanakan keindahan tidak dari pemikiran para filsuf atau keindahan yang telah diikat oleh konspsi, tapi keindahan yang ditulis Trias adalah keindahan yang ada pada alam. Memang keindahan yang dicirikan konsep bersifat terikat dalam perangkat epistemologi dan tidak mengalami perubahan meski objek yang kita sifati keindahan itu berubah menjadi sesuatu yang tidak indah. Tapi tidak dengan alam, ketika alam mengalami perubahan seperti kerusakan iklim, polusi, dan sampah, keindahan dapat hilang dari alam.

Dari keindahan yang mulai rusak, bahkan cendurung menjauh dan hilang akibat dari invasi dan eksploitasi atas sumber-sumber alam yang berorientasi pada modal semata. Pada manusia, kita lihat masifnya kelompok-kelompok tertentu yang lebih mengutamakan kekuasaan atas kelompok lain, cenderung menggunakan kebencian sebagai proyek menyingkirkan, bahkan upaya meniadakan kehidupan orang lain dilakukan.

Mengapa demikian? Ya, ketika cara pandangan kita terhadap yang lain tidak di dasarkan atas kasih sayang. Keindahan yang menjadi nilai dalam keberagamaan, seperti semesta–dan khususnya Indonesia yang tak bisa dipahami tanpa melihat ke-ikatan-nya terhadap yang banyak dan berbeda-beda hanya bisa dirawat dengan kasih sayang terhadap yang lain. Meski demikian, perbedaan diikat dengan kasih sayang. Kasih sayang dan kebencian adalah sama-sama pontensi yang ada dalam diri manusia. Manusia butuh sifat benci untuk menolok kerusakan dan fanatisme buta. Juga butuh sifat kasih sayang untuk menerima yang lain dalam dirinya.

​Filsafat sebagai Intellectual Exercise

Filsafat sebagai Intellectual Exercise

Husain Heriyanto


Banyak kalangan yang menuding filsafat hanya sebagai intellectual exercise (latihan berpikir) dan karenanya dipersepsi sebagai hal yang tidak berfaedah banyak untuk kehidupan manusia. Benarkah demikian? Apa yang dimaksud dengan intellectual exercise (IE)?  Lalu, apakah pendidikan filsafat baik melalui program studi yang terstruktur maupun kursus-kursus informal termasuk pengelolaan jurnal-jurnal filsafat merupakan IE belaka?

IE esensinya merupakan pendidikan dan pelatihan bagaimana menggunakan akal budi kita dengan benar, logis, dan koheren seraya menajamkan kemampuan dan kecakapan kritis dan analisis dalam memahami sesuatu. Logika, sebagai cabang sekaligus alat pokok filsafat, melatih penalaran untuk tepat dalam menata konsep-konsep dan putusan-putusan berupa penarikan kesimpulan yang didasarkan pada kaidah-kaidah asasi berpikir. Tapi filsafat, tentu saja, melampaui logika. Ia juga mendidik akal budi untuk memahami realitas secara radikal (radix, mengakar) dan menyeluruh sebagaimana adanya (maujūd mā huwa maujūd); inilah fungsi korespondensi filsafat, yakni menghubungkan dunia mental dengan dunia obyektif. Dalam konteks inilah, Ibn Sina menyebutkan bahwa salah satu manfaat utama filsafat adalah menyempurnakan jiwa (al-takāmul al-nafs) karena ia mengintegrasikan kapasitas jiwa rasional dengan realitas yang dikenal.

Jika demikian halnya, maka tentu tidaklah tepat menyatakan bahwa filsafat tidak berguna untuk kehidupan karena tidak ada yang menolak pentingnya berpikir lurus dan tepat mengambil kesimpulan apalagi di tengah membanjirnya gagasan dan informasi yang kerap saling bertentangan di pelbagai media dan buku; juga sulit mengelak bahwa kemampuan akal budi memahami realitas sebagaimana adanya secara mendasar sangat berguna dan makin dianggap urgen sekarang ini di tengah gegap gempitanya banalitas dan kedangkalan pemahaman. Terinspirasi oleh doa Nabi Muhammad yang memohon agar Tuhan menampakkan padanya “segala sesuatu sebagaimana adanya” (haqā’iq al-umūr), Jāmi menulis doa, “Wahai Tuhan kami, jauhkanlah kami dari keterikatan pada keindahan dunia, dan tampakkanlah pada kami watak segala sesuatu sebagaimana adanya. Jangan tampakkan pada kami yang tiada seperti ada, dan jangan pula jatuhkan tirai ketiadaan pada indahnya keberadaan”.

Sekalipun filsafat direduksi menjadi IE, ia tetap bermanfaat. Persis seperti body exercise (latihan badan; olahraga) agar tubuh sehat dan bugar dengan kaidah-kaidah fisiologis dan medis, IE (latihan berpikir; olah-nalar) merawat kesehatan dan kewarasan nalar kita dengan kaidah-kaidah koherensi dan korespondensi.

Lalu, mengapa pernyataan “filsafat hanya semata IE” mengalami distorsi atau pejoratif makna? Banyak faktor yang melambarinya. Salah satu diantaranya adalah kelembaman filsafat untuk berperan sebagai kata sifat atau kata kerja. Kelembaman (inersia) adalah karakteristik benda untuk mempertahankan keadaannya dan cenderung resisten terhadap perubahan statusnya; dalam fisika, tingkat kelembaman sebuah benda diwakili oleh massa benda tersebut. Semakin besar massa benda, semakin sulit untuk bergerak dan karenanya memerlukan gaya yang makin besar untuk menggerakkannya. Nah, karena sebagian sarjana mengamati bahwa filsafat – terutama studi filsafat di dunia Islam- telah diperlakukan sebagai kata benda, alih-alih kata kerja, maka terjadilah kelembaman studi filsafat yang cenderung defensif terhadap status-quo dan sebaliknya resisten terhadap tuntutan dinamika realitas. Kemudian muncullah frase pejoratif di muka “filsafat hanya sebagai IE”, yang ternyata IE pun kita cermati juga sangat berguna. Namun, pesan pokok frase pejoratif itu adalah bahwa filsafat berkutat pada masa lalu dan terpaku pada produk pemikiran alih-alih proses kreatif pemikiran.

Sejumlah sarjana sudah merespons anggapan reduksionis tersebut. Dalam sambutannya pada Konperensi “Islamic Philosophy and the Challenges of the Present-Day World” tahun 2009 di Teheran dan Hamadan, Prof. Reza Davari Ardakani, seorang filsuf-budayawan senior Iran, menyebutkan bahwa filsafat yang terkait dengan aktivitas berpikir membantu kita untuk: (1) membuka sebuah horizon baru; (2) menciptakan sebuah horizon baru; (3) berpikir ke depan (thinking ahead); dan (4) mengingatkan kita akan batasan-batasan dan sekaligus kapasitas mengatasi batasan-batasan itu (beyond limit). Filsafat, menurut Ardakani, juga harus selalu berinteraksi dengan dunia kontemporer; jika ia hanya berurusan dengan sejarah, ia mati (if it deals with only the past, it dies).

Pada acara yang sama, khususnya pembukaan konferensi tersebut, Ayatollah Muhammad Khamenei direktur SIPRIn (Sadra Islamic Philosophy for Research Institute), mengingatkan bahwa filsafat selalu muncul dari tantangan-tantangan. Filsafat harus bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di dunia.  Beliau memberi sejumlah contoh tantangan filsafat Barat terhadap filsafat Islam seperti sekularisme dan ateisme. Namun, pada saat yang sama, kakak Pemimpin Spiritual Iran ini (Ayatollah Ali Khamenei) ini juga menyuarakan dialog antara filsafat Islam dan filsafat Barat.  Sementara itu, Prof. Akiro Matsumoto, peneliti filsafat asal Jepang dalam konferensi itu mempresentasikan bagaimana filsafat Islam dewasa ini mempengaruhi dunia filsafat di Jepang melalui karya-karya Toshihiko Izutsu yang banyak menulis tentang filsafat Mullā Shadrā dan Suhrawardī dalam persepktif perbandingan dengan filsafat kontemporer.

Walhasil, pembaca budiman, merujuk pada ulasan di muka, enam artikel jurnal edisi kali ini bisa dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Artikel berjudul “Klasifikasi Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Jābir bin Ḥayyān” dan “Definisi dan Konsepsi Falsafah Islam” merupakan dua karya tulis yang mencoba memetakan gagasan dan tipologi pemikiran secara logis, runtut, dan koheren. Sementara artikel “Manusia dan Kesempurnaannya: Telaah Psikologi Transendental Mullā Shadrā” dan “Teori Gradasi: Komparasi antara Ibn Sīnā, Suhrawardī dan Mullā Shadrā” bisa dikategorikan sebagai dua karya tulis yang menunjukkan fungsi korespondensi filsafat, yakni, mengaitkan alam mental dan realitas luar. Sedangkan artikel “Epistemology and the Problem of Cultural Hybridity in Muhammad Iqbal’s Thought” dan “Reduksionisme Eksplanatif dan Antropologi Transendental Jawādī Āmulī” masing-masing  secara samar boleh digolongkan sebagai karya tulis yang hendak menyapa persoalan kontemporer dalam perspektif tradisi filsafat Islam.